Latest News

Bentrok Lembak Part II



Blokir Jalan (photo Realnews Zone)
Memang belum selesai secara tuntas. Perdamaian dadakan pasca bentrok yang dilakukan Polda Bengkulu dengan masyarakat Lembak Kabupaten Rejang Lebong ternyata hanya mampu meredam sesaat. Selang waktu yang tidak terlalu lama, tragedi pertikaian antara warga dengan aparat polisi kembali terjadi.

Dari beberapa sumber yang pernah dimuat portal berita tercepat Realnews Zone, akibat bentrokan itu, Edi Bagong (38) bin Gumbret warga Desa Blitar Kecamatan Binduriang tewas ditembak aparat kepolisian tepat dibagian mata kanan.

Menurut polisi, Edi diduga sebagai pelaku perampokan sebuah bus Jurusan Jambi-Seginim yang melintas di jalan lintas Curup-Lubuk Linggau tepatnya di Desa Kepala Curup, pukul 23.30 WIB. Bus Doa bersama dengan nopol BD 7019 BK tersebut membawa 24 penumpang yang semuanya berasal dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Pelaku yang diketahui berjumlah 30-an orang menggunakan sepeda motor, terlebih dahulu memecahkan kaca bus bagian depan dan belakang lalu menjarah seluruh harta berharga milik penumpang.

Data terhimpun, ketiga warga BS yang terluka adalah Sulik (65) warga Desa Suka Maju Kecamatan Air Nipis yang mengalami luka di bagian depan kepala dan mendapat 12 jahitan. Basar (56) mengalami luka dibahu kiri akibat terkena tusukan pisau dan Kamrin (58) warga Desa Keban Jati luka dibagian kepala belakang yang mendapat 4 jahitan.

Kabid Humas Polda Bengkulu AKBP. Hery Wiyanto, SH mengatakan, warga yang terluka sedang menjalani perawatan dan dikawal polisi. Sedangkan 24 warga BS lainnya diselamatkan ke Polres Rejang Lebong. “Ada yang dirawat, ada yang diamankan di kantor polisi. Mereka tujuannya untuk bekerja tapi dijalan tiba-tiba dicegat para perampok. Diduga tiga orang warga BS yang terluka itu, sempat melawan hingga akhirnya dihajar para perampok. Saya mengimbau kepada warga kota untuk jangan dulu melewati jalur Rejang Lebong–Curup, cari jalan alternatif lain saja,” saran Hery.

Apa yang terjadi di Binduriang ternyata berdampak ke TNI. Kabar yang beredar, terjadi kerusuhan di Binduriang dimana anggota TNI menembak warga jalan Blitar Kecamatan Binduriang. Info ini dibantah Kepala Penerangan Korem 041 Garuda Emas (Gamas) Onsonuni, SH. Menurutnya, pengamanan wilayah Binduriang bukanlah wewenang TNI. “Disana yang berwenang adalah pihak kepolisian. TNI mendukung sepenuhnya tindakan polisi. Pasukan TNI sedang melakukan pengamanan perbatasan di Papua, saat ini masih dalam perjalanan. Sedangkan Koramil dan Babinsa di sana tidak dilengkapi dengan senjata. Pagi tadi (kemarin) Danramil melayat ke rumah duka. Jadi tidak mungkin bila penembakan dilakukan oleh aparat TNI,” kata Onsonuni kepada sejumlah wartawan saat ditemui di Markas Korem 041 Gamas kemarin (12/7).

Dijelaskan, saat ini aparat TNI tidak melakukan langkah apapun terkait kerusuhan Binduriang episode 2, sebelum prosedur dan mekanisme yang di atur dalam UU yaitu pihak kepolisian meminta bantuan kepada TNI. “Bila Kepolisian tidak mampu lagi baru meminta bantuan TNI. Itupun tidak serta merta TNI langsung turun ke lokasi. Masih harus melaporkan dan mendapatkan persetujuan dari atasan. Saat ini TNI hanya mendukung langkah yang diambil kepolisian,” ujarnya lagi.

Dari informasi yang dihimpun TNI tentang kronologi kejadian, sekitar pukul 00.00 WIB dini hari kemarin, terjadi perampokan mobil bus di Binduriang. Korban perampokan langsung melaporkan kejadian tersebut ke polsek setempat. Kemudian polsek melaporkan ke polres, sehingga pada malam dini hari tersebut Polres Rejang Lebong dan Polsek Binduriang melakukan patroli. Saat melakukan patroli, mobil tim patroli dilempari batu oleh orang tidak dikenal. Terus menerus hingga terjadilah penembakan sekitar pukul 02.00 WIB.

Bentrok Lembak menjadi Headline Media setempat

Menurut versi Kapolres RL, AKBP I Ketut Yuda Karnyana Irawan, S.Ik, di Polsek Sindang Kelingi menuturkan, awal kejadian bermula saat beberapa petugas polisi ingin membereskan lokasi pos terpadu yang telah dibubarkan secara resmi sekitar pukul 20.00 - 21.00 WIB. Saat berada di Desa Cahaya Negeri, aparat sempat mendapat lemparan batu oleh warga sekitar. Namun Polisi tetap menahan diri dan tidak memberikan perlawanan apapun. Tidak lama berselang, petugas Polsek dan Polres RL menerima laporan pengaduan bahwa sebuah bus asal Jambi dengan 24 penumpang tujuan ke Seginim menjadi korban perampokan di Desa Kepala Curup. Polisi langsung melakukan pengejaran terhadap pelaku perampokan yang diperkirakan berjumlah 30-an orang ke arah Kepala Curup hingga Desa Cahaya Negeri.

Setibanya di Desa Cahaya Negeri warga sekitar melakukan pelemparan batu, bom molotov dan tombak ke arah aparat. Bentrokan pun tak terelakkan, hingga berujung pada tewasnya Edi Bagong akibat timah panas. Diduga kuat Edi merupakan salah satu pelaku perampokan terhadap sebuah bus asal Jambi.

Selain itu, diperkirakan 1 warga lainnya mengalami luka tembak dibagian kaki. Sedangkan dari pihak polisi, sebuah mobil dinas hancur terkena lemparan batu dan tombak warga. "Jadi, yang tewas itu adalah pelaku perampokan bus malam tadi (kemarin). Apa yang kami lakukan malam tadi adalah semata untuk mengejar pelaku curas dan itu adalah tugas kami untuk menindak siapa pun pelaku perampokan. Kondisi pada malam itu tidak lain sedapat mungkin untuk menghindari bentrokan. Tapi lantaran sikap warga yang membabi-buta kepada anak buah saya makanya kita lakukan langkah bela diri karena makin didesak. Saya minta jangan diplintir. Kembali saya tegaskan, warga yang kita tembak itu adalah pelaku perampokan sebuah bus. Apa yang dilakukan Polisi sudah sesuai prosedur dan sebagai tindak lanjut laporan masyarakat maka dilakukan pengejaran terhadap pelaku perampokan," ujar Yuda kepada jurnalis, Kamis siang (12/7).

Sementara itu, Dandim 0409 Rejang Lebong, Letkol Inf. Yanto Kusno Hendarto, usai melakukan dialog dan melayat ke rumah duka, mengatakan, "Kami hanya berkapasitas sebagai aparat teritoral menjaga stabilitas suatu daerah. Apalagi yang menjadi pemicu atau penyebab bentrokan itu terjadi karena ada korban yang dirampok dan polisi melakukan pengejaran. Soal ada warga yang ditembak hingga tewas ya kita kembalikan kepada warga, khususnya keluarga korban untuk berdialog langsung dengan kapolres. Makanya tadi (kemarin) langsung saya antar pihak keluarga korban bertemu dengan kapolres. Intinya pihak keluarga ingin menempuh jalur hukum," terang Yanto.

Dijelaskan, pasca bentrokan tersebut kodim telah menyiagakan sebanyak 30 personel di beberapa titik yang dianggap rawan dan sedapat mungkin melakukan pendekatan kepada warga. "Petugas sudah kita sebar untuk menjaga keamanan sampai suasana menjadi kondusif lagi," jelas Yanto.

Keterangan warga Desa Blitar, Edi Bagong diklaim merupakan orang baik-baik. Bahkan menurut warga, saat malam kejadian Edi sempat membantu mengantarkan salah satu mobil untuk melintas. Nahas saat hendak pulang dirinya langsung terkena tembakan dari aparat. Sikap tidak terima atas kematia Edi ini terus mendapat dukungan warga hingga akhirnya mendesak untuk dilakukan otopsi.

Pascabentrok, warga Desa Lembak melakukan aksi sepihak. Warga meluapkan kemarahannya dengan memblokir jalan Curup - Lubuklinggau menggunakan batu besar, cor patok batas hingga batang kayu yang dibakar hingga menimbulkan kobaran api cukup besar. Pemblokiran jalan berlangsung sekitar 14 jam. Yakni antara pukul 00.00 WIB hingga tadi sore (kemarin) pukul 15.00 WIB. Jalan baru dibuka kembali usai pendekatan persuasif TNI yang dipimpin langsung Dandim Letkol Inf Yanto Kusno Hendarto bersama tokoh masyarakat dan perangkat Desa setempat.

Berdasarkan pantauan, beberapa kendaraan truk, fuso dan bus tidak bisa melanjutkan perjalanannya melintasi jalur Curup-Lubuklinggau. Proses pembukaan jalan pun berlangsung cukup menegangkan karena banyak warga enggan membuka jalan. Arus kendaraan sepanjang Curup menuju Lubuklinggau terlihat lengang.

Salah satu warga Desa Mojorejo, Agus (38) nyaris dibunuh warga Desa Blitar Kecamatan Binduriang lantaran dicurigai menjadi intel polisi yang memberikan informasi ke polres. Warga sekitar yang mengetahui kabar tersebut langsung terbawa emosi dan ingin membunuh Agus. Namun Agus berhasil diamankan Kades Blitar di rumah duka. Bahkan, sejumlah warga sempat mendesak untuk segera menghabisi nyawa Agus, untunglah niat tersebut berhasil digagalkan berkat bantuan petugas TNI yang berada dikediaman rumah duka.

Kecurigaan warga terungkap saat warga melihat gerak gerik Agus dan langsung diamankan warga serta menyita Hp milik Agus. Setelah dibuka isi SMS-nya berisikan keterangan informasi yang ditujukan ke Polres. "Makanya mengetahui kabar penyanderaan tersebut kami bersama Kapolres langsung melakukan pembebasan sandra di rumah duka. Tidak lama berselang sebanyak 1 peleton polisi dibantu TNI dan sejumlah tokoh masyarakat akhirnya berhasil membebaskan Agus. Jika saja proses pembebasan terlambat, bukan tidak mungkin dia (Agus) dibunuh warga yang sudah kadung emosi dan marah," kata Yanto.

Proses pembebasan sandra ini pun menurut Yanto, dilakukan cukup hati-hati dan dalam tempo singkat. Dia menjelaskan, setibanya rombongan TNI bersama 1 peleton petugas tergabung dari unsur polisi dan brimob di Desa Blitar, dandim bersama petugas TNI langsung menuju rumah duka, tempat Agus diamankan. Sebanyak 4 anggota TNI langsung masuk ke rumah duka tanpa banyak bicara. Dalam hitungan menit anggota yang keluar berjumlah 5 orang dan ternyata satu orang yang dibawa keluar itu adalah Agus sambil mengenakan pakaian loreng layaknya seperti anggota TNI. "Upaya itu kita lakukan agar tidak diketahui warga sekitar karena saya lihat ada beberapa warga yang membawa sejata tajam. Tapi, saya lihat tadi (kemarin) ada juga warga yang tahu dan mendekati mobil anggota yang membawa Agus keluar," papar Yanto.

Warga yang tahu proses pembebasan Agus pun langsung mendekati kendaraan anggota TNI yang terparkir tepat di depan rumah duka. Bahkan sejumlah warga terlihat kecewa dan tidak rela melihat Agus dibawa anggota TNI. Kekecawaan warga Blitar pun makin menjadi saat Agus keluar dengan cepat dikawal petugas TNI lalu meninggakan kediaman rumah duka menuju Curup.

Upaya dialog yang ditempuh pihak keluarga korban Edi Bagong dengan Kapolres RL AKBP I. Ketut Yuda Karyana, S.Ik, di ruangan Kapolsek Sindang Kelingi, kemarin, tidak menemui titik terang. Karena keduannya tetap dengan prinsipnya masing-masing. Kapolres menegaskan apa yang dilakukan anak buahnya semata untuk menindak dan mengejar pelaku perampokan sedangkan dari pihak keluarga korban menginkan Edi dilakukan otopsi dan menuntut jalur hukum. "Kami selaku anggota keluarga kecewa dengan sikap kapolres yang tidak mau bertanggung jawab dan hanya mengucapkan keprihatinan atas kejadian yang dialami anggota keluarga kami. Padahal kami ingin dilakukan otopsi terhadap jenazah adik saya untuk mengeluarkan proyektil peluru di bagian mata kanan. Yang jelas kami ingin menempuh jalur hukum atas penembakan yang kami nilai tidak tepat. Karena adik saya ini orang baik dan bukan pelaku perampokan," ujar Purwanto warga Desa Pelalo Kecamatan Binduriang.

Rapat antara pihak keluarga korban dengan Kapolres RL, I Ketut Yuda Karydi di ruang Kapolsek Sindang Kelingi, kemarin siang berlansung tertutup. Sejumlah awak media yang meliput kejadian itu tidak diperkenankan masuk. Belum diketahui pasti apa saja poin yang dibicarakan. Namun dari keterangan pihak keluarga korban, mereka tetap menginginkan upaya hukum terhadap pelaku yang menembak mati Edi.

Setelah tertembak Edi Bagong sempat dilarikan ke RSUD Curup pukul 04.30 WIB untuk mendapatkan pertolongan dan perawatan medis. Namun kondisi korban serta akibat luka di kepala nyawa Edi tidak tertolong lagi. Jenazah Edi dikebumikan kemarin sore setelah dilakukan upaya dialog dimotori pihak TNI dan tokoh masyarakat sekitar Blitar serta perangkat desa.

Terakhir, Pasca bentrokan polisi dengan warga Lembak untuk kedua kalinya membuat langkah upaya meminimalisir aksi kriminalitas dan bentrokan susulan maka mulai hari ini, polisi dibantu anggota TNI akan melakukan patroli gabungan disepanjang jalan jalur lintas Curup-Lubuklinggau hingga batas waktu yang tidak ditentukan.

0 Response to "Bentrok Lembak Part II"