Langsung ke konten utama

TENTANG KITA DAN TUHAN : Puisi M Enthieh Mudakir:

Kenyataan dalam fikir sesuai zikir
ada monoisme dan phantheisme
singkretis dan alkulturasi
akar  dunia
Tasawuf abad akan datang
di mana era modernisme memukul mundur manusia

Kita bukan nabi Khidir juga bukan nabi-nabi lainnya
kita adalah manusia yang bukan pilihan
karna pilihan manusia
Tidak sebagaimana kehendak-Nya

Ketika nurani bisu
Menuju tanpa tuju
Orang saling berseteru
Siapa di antara kalian sebenarnya ?

Tuhan tak pernah murka
Kalian tahu kenapa ?
      (pikirkan setelah zikir
      lihat bening cermin kehidupan)

Akal sehat mengajarkan
nglangsoning ati
Pasrah lillahi ta’ala
     Kata pertanyaan yang menggedor-nggedor
manusia dilahirkan dan dibumikan
silih berganti tak seperti yang gaib
 tidak memiliki hunian ketentuan
Sedangkan manusia, entah akan menjelma apa ?

Segala yang terus kita lihat
kalau diukur secara akal sehat
jangan sekali gampang artikan
fikir dan zikir
sejak manusia purba sampai zaman kapan pun
Tuhan sendiri butuh pengakuan sebagai Tuhan
tapi tidak usah kalian kira
akibat yang diciptakan manusia
Ia tak akan pernah mundur sebagai Allah

(pikirkan setelah zikir
lihat bening
cermin kehidupan)

Banyak rumbai dan istilah
kolusi, komisi, eufi dan segala arogansinya
teori akal mengajarkan kenapa kita bersimbiosis
lihat bening cermin kehidupan
kanan kiri serta mertanya
apakah setelah pikir dan zikir
nglasoh ati
pasrah tidak untuk kalah
Ingat pesan pergaulan
ketika kita mampu menyingkirkan sakit

Melihat baik buruk  
membingkai
memandang menjadi pada
tanpa tungku di dada
memberi tempat ego
tepis sirna
tempat jiwa-jiwa  

Sesuai fikir dan zikir
teori akal mengajarkan
Tuhan ternyata butuh
dialog yang dialogis
kenyataan impian  
juga kenyataan Tuhan
dunia ada di antara seribu kata

(pikirkan setelah zikir
lihat bening cermin kehidupan)

Ketika evolusi pemikiran terus diserang
ketika evolusi badan dan ruh bersatu padu
ketika evolusi mayapada menjelmakan kata  

Akal budi
akal pikir
saling berselimpangan
bukan saja hal baik
batil pun melata di sisi kita
suara-suara
terkadang membahana
gembira dan pilu
saat itu pula tiba
juntrung kesepian yang sesungguhnya
kesepian manusia
nurani tidak berbohong
satu kata dalam dada
tentang kita dan Tuhan.

Komentar